AKTAHUD.CO, Konawe – Pemerintah Kabupaten Konawe mulai menutup celah pemborosan dalam persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), seleksi atlet kini digelar lebih ketat, menyasar cabang olahraga yang dinilai berpeluang menyumbang medali.
Empat cabang olahraga masih bergulat dalam proses seleksi: atletik, bulutangkis, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI), dan pencak silat. Penyaringan dilakukan berlapis, tak lagi sekadar formalitas menjelang pesta olahraga tingkat provinsi itu.
Sejumlah nama yang ikut seleksi bukan tanpa rekam jejak. Beberapa di antaranya sudah mencicipi kompetisi nasional hingga internasional—modal yang membuat Konawe berani menatap target lebih tinggi.
Pada cabor POSSI, misalnya, terdapat atlet yang pernah berlaga di tingkat Asia.
Sementara di pencak silat sejumlah atlet juga telah tampil pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mewakili Sulawesi Tenggara. Sedangkan untuk Bulutangkis saat ini sejumlah atlet sedang berlatih di Makassar dan ikut Sirnas di Surabaya.
Dengan bekal pengalaman tersebut, cabang-cabang ini diproyeksikan menjadi tulang punggung perolehan medali emas. Konawe tak lagi sekadar hadir sebagai pelengkap kontingen.
Di luar itu, kekuatan lama tetap dipertahankan. Catur, angkat besi, dan angkat berat masih menjadi andalan, setelah terbukti menyumbang emas pada Porprov sebelumnya di Buton dan Baubau.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Konawe, Jahiuddin, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa seleksi dilakukan untuk menjaring atlet potensial sekaligus mencegah perpindahan atlet ke daerah lain.
“Tujuan utama seleksi ini adalah mendeteksi atlet-atlet yang berpeluang meraih medali, sekaligus memastikan mereka tetap membela daerah. Selain itu, kita ingin memastikan bahwa yang mewakili Konawe benar-benar atlet berprestasi,” katanya.
Perubahan pendekatan menjadi kunci. Dispora tak lagi memberi ruang bagi atlet “titipan” tanpa prestasi. Seleksi ketat dijadikan filter awal agar anggaran tak terbuang sia-sia.
“Dulu kontingen kita terkesan hanya menghabiskan anggaran, karena tidak semua atlet punya peluang meraih medali. Sekarang kita seleksi secara serius sejak awal, agar lebih efektif dan tepat sasaran,” ujarnya.
Setelah seleksi rampung, tiap cabang olahraga diwajibkan menyerahkan data atlet ke Dispora untuk dilaporkan kepada Bupati Konawe. Tahap berikutnya adalah pemusatan latihan atau training center (TC) yang akan digelar sekitar tiga bulan menjelang Porprov.
Pembinaan lanjutan akan diserahkan kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Konawe sebagai induk organisasi olahraga, termasuk pengelolaan anggaran pembinaan.
Dengan Kendari sebagai tuan rumah Porprov, Konawe merasa diuntungkan secara geografis. Faktor jarak dinilai bisa menekan beban logistik sekaligus menjaga kondisi atlet.
“Kita menargetkan minimal berada di peringkat empat besar. Ini realistis, mengingat jarak yang dekat dan potensi atlet yang kita miliki,” tegasnya.
Namun persoalan klasik belum sepenuhnya hilang. Perpindahan atlet ke daerah lain masih menghantui, terutama karena faktor bonus yang lebih menggiurkan.
“Kami berharap tidak ada lagi atlet asli Konawe yang pindah daerah. Pemerintah daerah juga berkomitmen memberikan bonus yang maksimal bagi atlet berprestasi,” tutupnya.
Dengan seleksi yang diperketat dan pembinaan yang lebih terarah, Konawe mencoba mengubah pola lama: dari sekadar peserta menjadi penantang serius di Porprov mendatang. (**)














